Laman

Tampilkan postingan dengan label Psikoterapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikoterapi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2015

Terapi Behaviour (Teknik Desensitisasi Sistematis)





Wolpe (dalam Corey, 2007) mengungkapkan bahwa teknik desensitisasi sitematis merupakan salah satu teknik perubahan perilaku yang didasari oleh teori atau pendekatan behavioral klasikal.  Perhatian behavioral adalah pada perilaku yang nampak, sehingga terapi tingkah laku mendasarkan diri pada penerapan teknik dan prosedur yang berakar pada teori belajar yakni menerapkan prinsip-prinsip belajar secara sistematis dalam proses perubahan perilaku menuju kearah yang lebih adaptif.
Menurut sejarah teknik desensitisasi sitematis, Corey (2005) mengemukakan tentang latar belakang teknik ini melihat bahwa rasa takut dipelajari lewat pengkondisian, demikian juga sebaliknya rasa takut dapat dihilangkan lewat pusat pengkondisiannya.  Desensitisasi sistematis dikembangkan dalam tradisi behavioristik pada awal tahun 1950 oleh Joseph Wolpe. Asumsi dasar teknik ini adalah respon ketakutan merupakan perilaku yang dipelajari dan dapat dicegah dengan menggantikan aktivitas yang berlawanan dengan respon ketakutan tersebut. Respon khusus yang dihambat oleh proses perbaikan (treatment) ini adalah kecemasan-kecemasan atau perasaan takut yang kurang beralasan; dan respon yang sering dijadikan pengganti atas kecemasan tersebut adalah relaksasi atau penenangan.  Prinsip dasar Desensitisasi adalah memasukkan suatu respon yang bertentangan dengan kecemasan yaitu relaksasi.

Pengertian Desensitisasi
Desentisasi yaitu suatu cara untuk mengurangi rasa takut atau cemas seorang anak dengan jalan memberikan rangsangan yang membuatnya takut atau cemas sedikit demi sedikit rangsangan tersebut diberikan terus, sampai anak tidak takut atau cemas lagi (Dalimunthe, 2009). Prosedur treatment ini dilandasi oleh prinsip belajar counterconditioning, yaitu respon yang tidak diinginkan digantikan dengan tingkah laku yang diinginkan sebagai hasil latihan yang berulang-ulang. Teknis desentisisasi ini sangat efektif untuk menghilangkan rasa takut atau fobia. Prinsip macam terapi ini adalah memasukan suatu respon yang bertentangan dengan kecemasan yaitu relaksasi. Pertama-tama subyek dilatih untuk relaksasi dalam, salah satu caranya misalnya secara progresif merelaksasi berbagai otot, mulai dari otot kaki, pergelangan kaki, kemudian keseluruhan tubuh, leher dan wajah. Pada tahap selanjutnya ahli terapi membentuk hirarki situasi yang menimbulkan kecemasan pada subyek dari situasi yang menghasilkan kecemasan paling kecil sampai situasi yang paling menakutkan. Setelah itu subyek diminta relaks sambil mengalami atau membayangkan tiap situasi dalam hirarki yang dimulai dari situasi yang paling kecil menimbulkan kecemasan (Purnama, 2008).
Desentisisasi adalah salah satu tehnik yang paling luas di gunakan dalam terapi tingkah laku. Desentisisasi sistematik di gunakan untuk menghapus tingkah laku yng di perkuat secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak di hapuskan itu. Dengan pengkondisian klasik, responrespon yang tidak di kehendaki dapat di hilangkan secara bertahap (Marfiati, 2009).

Prosedur Latihan Desensitisasi
Teknik desensitisasi dipergunakan terutama untuk mengatasi rasa takut terhadap sesuatu, terutama yang mengalami phobia (takut yang berlebihan atau tidak wajar). Teknik ini mengandung unsur-unsur untuk mengajar bagaimana seseorang yang dihinggapi rasa takut terhadap sesuatu, yang sebetulnya tidak perlu ditakuti, untuk dapat lebih berani menghadapi hal yang ditakuti tadi. Teknik ini juga merupakan sesuatu counter conditioning (melawan kondisi) untuk melawan rasa takut terhadap sesuatu.

Langkah-langkah Relaksasi
1.     Tarik nafas dalam-dalam dan tahan selama 10 detik kemudian lepaskan. 
      Biarkan lengan Anda dalam posisi di atas paha atas lepas begitu saja.
2.     Angkat tangan Anda kira-kira separuh sofa (pada sandaran kursi) kemudian 
      bernafaslah secara normal. Letakkan tangan Anda di atas sofa (kursi).
3.     Sekarang pegang lengan Anda lalu kepalkan dengan kuat. Rasakan 
      ketegangannya dalam hitungan sampai tiga dan pada hitungan yang ketiga 
      letakkan tangan Anda. Satu…Dua…Tiga. Angkat tangan Anda, kembali.
4.      Angkat tangan Anda kembali, tekuk jemari Anda ke belakang ke arah lain ( ke arah tubuh Anda ). Sekarang letakkan tangan Anda dan tenanglah.
5.      Angkat tangan Anda sekarang, letakkan kemudian rileks.
6.      Angkat tangan Anda sekali lagi, tapi saat ini tepukkan tangan Anda dan rileks.
7.      Angkat tangan Anda.
8.      Naikkan tangan Anda di atas sofa dan tegangkan otot bisep anda sampai 
       bergetar. Bernafaslah normal, lepaskan tangan anda dan rileks 
       (perhatikan perasaan tenang dan rileks yang Anda rasakan).
9.      Sekarang rentangkan lengan Anda dan tegangkan otot bisep Anda. Yakinlah 
      bahwa Anda bernafas normal setelah itu rileks.
10.  Lengkungkan pundak anda ke belakang, tahan dan yakinkan lengan anda rileks.
11.  Bungkukkan pundak anda ke depan, tahan dan yakinkan lengan anda rileks.
12.  Putar kepala Anda ke kanan, tegangkan leher anda lalu rileks dan kembali ke posisi pertama.
13.  Putar kepala Anda ke kiri, tegangkan leher anda lalu rileks dan kembali ke posisi pertama.
14.  Bengkokkan kepala sedikit ke belakang, tahan lalu kebali ke posisi semula.
15.  Tunduk kepala ke bawah sampai hampir menyentuh dagu menyentuh dada, 
      tahan kemudian rileks dan kembali ke posisi semula.
16.  Buka mulut Anda lebar-lebar kemudian rileks.
17.  Tegangkan bibirmu dengan cara menutup mulut Anda kemudian rileks.
18.  Letakkan lidah Anda pada langit-langit mulut, tekan dengan keras biarkan 
      lidah Anda kembali ke posisi semula dan rasakan perasaan tenang.
19.  Letakan lidah Anda di bagian dasar mulut, tekan ke bawah biarkan lidah 
Anda kembali ke posisi semula dan rasakan perasaan tenang.
20.  Duduklah di sebelah sana kemudian rileks dan jangan memikirkan apapun.
21.  Untuk mengontrol luapan emosi, Anda dapat bernyayi dengan nada tinggi, 
      tidak terlalu keras! baiklah sekarang mulai bernyayi, tahan pada nada tinggi 
      tersebut kemudian rilek.
22.  Menyanyilah dengan nada sedang dan buatlah pita suara Anda tegang kembali lulu biarkan rileks.
23.  Menyanyilah dengan nada rendah dan buatlah pita suara Anda tegang kembali kemudian rileks.
24.  Sekarang pejamkan mata Anda erat-erat lalu bernafaslah normal kemudian 
      rileks. (Perhatikan bagaimana perasaan sakit Anda hilang ketika Anda rileks).
25.  Biarkan mata Anda rileks dan biarkan mulut Anda sedikit terbuka.
26.  Buka mata Anda lebar-lebar, tahan kemudian rilleks.
27.  Kerutkan dahi Anda sebisa mungkin, tahan kemudian rileks.
28.  Tarik nafas dalam-dalam, tahan, hembuskan keluar kemudian rileks 
      (perhatikan perasaan lapang saat kamu menghembuskan nafasmu).
29.  Bayangkan bahwa ada sebuah beban berat menarik seluruh otot Anda 
sehingga membuatnya lembek setelah itu rileks.
30.  Tarik otot-otot perut bersamaan lalu rileks.
31.  Tegangkan otot-otot anda seolah-olah Anda pegulat profesional. Buatlah otot perut anda mengeras kemudian rileks.
32.  Keraskan otot pantat Anda, tahan kemudian rileks.
33.  Sekarang kita beralih ke bagian atas dari tubuh Anda yang tegang kemudian rileks. Pertama otot-otot muka (Jeda…3-5 detik). Otot-otot tenggorokan. (Jeda …. 3-5 detik) daerah leher. (Jeda ….3-5 detik) bagian pundak. (Jeda..) Lengan dan jari. 34. Pertahankan keadaan rileks ini, angkat kedua kaki Anda (kira-kira membentuk sudut 45) kemudian rileks.
34.  Tekuk kaki bagian belakang sehingga ujung jari kaki mengarah ke muka Anda. Rileks
35.  Tekuk kaki Anda ke arah lain dari tubuh anda tidak terlalu jauh rasakan 
      ketegangannya, kemudian rileks.
36.  Rileks! (Jeda). Sekarang lengkungkan jari kakimu bersamaan sekuat mungkin, kemudian rileks. (Tenanglah sekitar 30 detik).
37.  Prosedur relaksasi formal ini telah lengkap. Sekarang perhatikan tubuh anda dari ujung kaki sampai kepala bahwa setiap otot dalam keadaan rileks. (Sebutlah satu persatu!). Pertama jari-jari kaki,… kaki,… Pantat,…. Perut,… Pundak,… Leher,… Mata,… dan terakhir dahi. Semua harus dalam kadaan rileks. (tenang selama 10 detik). Berbaringlah di tempat lain dan rasakan perasaan tenang, perhatikan kehangatan dari relaksasi tersebut. Pertahankan keadaan tersebut satu menit lagi, kemudian hitung sampai lima. Ketika sampai lima, bukalah mata dan rasakaan perasaan segar dan tenang. (tenang sekitar satu menit). Ulangi prosedur ini beberapa kali sampai akhirnya Anda benar-benar merasakan perasaan yang sangat tenang.

Langkah-Langkah Pelaksanaan Desensitisasi
1.      Menjelaskan apa dan mengapa teknik desensitisasi diberikan pada klien, 
       dengan maksud agar klien yakin teknik ini dapat membantu menghilangkan 
ketakutannya.
2.      Melakukan latihan penenangan agar klien benar-benar dalam kondisi rileks.
3.      Konselor menganalisis kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan 
       keadaan yang menjadikan klien terlalu sensitif terhadap sesuatu, kemudian 
       konselor melakukan hal-hal sebagai berikut:
       a.       Konselor membantu menulis beberapa macam kalimat berkenaan 
              dengan rasa takut klien pada sesuatu dalam dalam bentuk daftar.
             b.       Menyusun dan melengkapi daftar tersebut bersama klien.
             c.       Membantu klien mengurut jenjangkan daftar tersebut dari yang paling 
                    kurang ditakuti sampai kepada yang sangat ditakuti.
4.      Menyelenggarakan desensitisasi dengan cara sebagai berikut:
             a.       Klien disuruh duduk dengan rileks.
             b.      Klien diminta memejamkan mata.
             c.       Klien mengikuti instruksi-instruksi konselor.
5.      Melakukan evaluasi, untuk mengetahui apakah klien benar-benar sudah dapat 
       mengikuti latihan untuk urut jenjang berikutnya
6.      Tindak lanjut: Tindak lanjut dapat dilakukan dengan mengulangi kembali 
       urut jenjang sama bila klien masih takut atau dapat melanjutkan ke urut 
       jenjang berikutnya.

Daftar Pustaka:
-          Corey, Gerald. 2007. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. 
            Bandung: Refika Aditama
-          Corey, Gerald. 2005. Theory and Practice of Counseling & Psychotherapy. 
           7th ed. Belmont: Thomson Brooks / Cole.

Rabu, 15 April 2015

Person Centered Therapy (Rogers) 2

Dalam artikel sebelumnya sudah di bahas sedikit tentang Person Centered Therapy (Rogers). Dalam artikel ini saya akan membahas Person Centered Therapy (Rogers) lebih kepada teori-teori. Semoga bermanfaat.




Konsep Dasar Pandangan Carl Rogers tentang Perilaku / Kepribadian
Konsep Carl Rogers mengenai perilaku atau kepribadian yang sering memiliki arti yang unik dan khas dalam orientasi sebagai berikut :
1.      Pengalaman
Terjadi pada pribadi individu. Sebagian dari hal ini terkait akan kesadaran. Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari-jari kita seperti yang kita tulis.
2.      Realitas
Realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi individu, meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang-orang yang memiliki persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang akan setuju pada kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat dirinya sebagai seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan kenyataan orang menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa politisi menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi hati dari rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita). Dalam terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
3.      Organisme Bereaksi sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang mungkin lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut akan melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih jelas tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku di arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat memutuskan untuk tidak mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia memutuskan bahwa kehidupan keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri sebagai pejabat.
4.      Organisme mengaktualisasi kecenderungan (The Organism 
Actualizing Tendency)
Ini adalah prinsip utama dalam tulisan – tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart Mowrer, Harry Stack Sullivan, Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya beberapa. Perjuangan untuk mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah contoh. Ini adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori kepribadian yang lain. Di beri pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan eksternal. Individu lebih memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk menjadi independen dari pada bergantung. Dan secara umum untuk mendorong pengembangan optimal dari organisme total.
5.      Frame Internal Referensi
Ini adalah bidang persepsi individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna yang melekat pada pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang memiliki pusat pandangan. Kerangka acuan internal memberikan pemahamana sepenuhnya tentang mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal ini harus di bedakan dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.
6.      Konsep Diri
Istilah – istilah mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual terdiri dari persepsi karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang hubungan dari “I” atau “Aku” kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan, bersama dengan nilai – nilai yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt kesadaran merupakan cairan dan proses perubahan.
7.      Symbolization
Ini adalah proses di mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang – orang menganggap dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan berbohong. Pengalaman ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten dengan konsep diri. Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan khalayak diam sebagai terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan sebuah kelompok yang penuh perhatian dan tertarik.
8.      Penyesuaian Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal ini mengacu pada konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman individu sensorik dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur – unsur kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
9.      Organismic Valuing Process
Ini adalah proses yang berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti indra mereka sendiri untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan sistem fixed menilai intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan” dan juga dengan apa yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic konsisten dengan hipotesis.
10.  The Fully Functioning Person
Rogers mendefinisikan mereka yang bergantung pada Organismic valuing process seperti Fully functioning person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan, memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui pengalaman mereka.

Unsur-unsur Terapi
Munculnya masalah / gangguan
Carl Rogers (1902-1987), berpendapat individu memiliki kecenderungan dasar yang mendorong mereka kearah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Gangguan-gangguan psikologis pada umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri. Pendekatan humanistic Rogers terhadap terapi Person Center Therapy, membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan pengharagaan dalam hubungan terapeutik.

Tujuan terapi
Secara umum tujuan dari konseling ini adalah untuk memfokuskan diri klien pada pertanggungjawaban dan kapasitasnya dalam rangka menemukan cara yang tepay untuk menghadapi realitas yang dihadapi klien (dalam Corey, 1986). secara terinci tujuannya adalah sebagai berikut :

  1. Membebaskan klien dari berbagai konflik psikologis yang dihadapinya.
  2. Menumbuhkan kepercayaan pada diri klien, bahwa ia memiliki kemampuan untuk mengambil satu atau serangklaian keputusan yang terbaik bagi dirinya sendiri tanpa merugikan orang lain.
  3. Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada klien untuk belajar mempercayai orang lain, dan memiliki kesiapan secara terbuka untuk menerima berbagai pengalaman orang lain yang bermanfaat bagi dirinya sendiri. 
  4. Memberikan kesadaran kepada klien bahwa dirinya adalah merupakan bagian dari suatu lingkup sosial budaya yang luas, walaupun demikian ia tetap masih memiliki kekhasan atau keunikan tersendiri.
  5. Menumbuhkan suatu keyakinan kepada klien bahwa dirinya terus tumbuh dan berkembang (Process of becoming)

Peran terapis
Menurut Roger peran terapis person center therapy adalah:

  • Menyediakan kondisi terapeutik agar klien dapat menolong dirinya dalam rangka mengaktualisasikan dirinya.
  • Memberikan penghargaan yang positif yang tidak terkondisi bagi klien. 
  • Mendengarkan dan mengobservasi lebih jauh untuk mendapatkan aspek verbal dan emosional klien. 
  • Memberikan pemahaman empatik untuk melihat kekeliruan dan inkongruen yang dialami oleh klien. 
  • Terapis peduli dan ramah dengan klien.

Teknik-teknik Terapi
Yang di terapkan dalam terapi ini yaitu:
Empati
Kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.

Positive Regard (Akseptansi)
geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena keberadaannya.

Congruence  (Kongruensi)
kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan – pulasan.

Menurut Carl Rogers jika terjadi perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam suatu hubungan.

Daftar Pustaka

  • Corsini, R. (2000). Current Psychotherapies. Itasca, Illinois: F.E. PeacockPublishers.
  • Corey, G. (2003).Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung:PT Refika Aditama 
  • Murad, J. (2006). Dasar - Dasar Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Semiun, Y. (2010). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius.