Laman

Selasa, 21 April 2015

Fenomena Depresi






Depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa yang disertai dengan melemahnya kepekaan terhadap stimuli tertentu, pengurangan aktivitas fisik maupunmental dan kesukaran dalam berpikir (Kartono dan Gulo, 2003). American Psychological Association (APA) (2000) mendefinisikan depresi merupakan perasaan sedih atau kosong yang disertai dengan penurunan minat terhadap aktivitasyang menyenangkan, gangguan tidur dan pola makan, penurunan kemampuanberkonsentrasi, perasaan bersalah yang berlebihan, dan munculnya pikiran tentang kematian atau bunuh diri. Untuk lebih tahu secara spesifik tentang depresi, dibawah ini akan dijelaskan.
Menurut Philip L. Rice (1999), depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.

Teori
Diantara berbagai teori tentang depresi, di bawah ini terdapat teori penyebab depresi yang dalam psikologi terdapat suatu teori yang merupakan suatu penjelasan mutakhir mengenai fenomena depresi, yakni:
Learned Helplessness
Dikembangkan oleh M.E.P. Seligman yang memandang gangguan depresi berhubungan erat dengan proporsi sense of control (keyakinan diri sebagai penentu situasi yang dialami). Seseorang yang mengalami depresi pada umumnya merasa tidak berdaya, kurang memiliki  keyakinan sebagai penentu situasi di sekelilingnya. Atau bahkan sebaliknya, ia merasa segala sesuatu bersandar padanya.

Psikoanalitik (Freud)
Seseorang depresi kehilangan objek cinta yang ambivalen baik nyata maupun imajinasi, maka ia akan bereaksi dengan kemarahan yang tidak disadari dan kemudian diarahkan kepada dirinya sendiri. Ini menyebabkan penurunan harga diri dan depresi.

Kognitif
Mendalilkan suatu “trias kognitif” pada persepsi yang terdistorsi, yaitu interpretasi negatif seseorang tentang pengalaman hidupnya menyebabkan penurunan nilai dirinya sehingga menyebabkan depresi

Penyebab
Faktor pemicu munculnya depresi berbeda-beda. Depresi bisa terjadi pada usia berapa pun, risiko mengalaminya akan meningkat seiring dengan usia. Faktor depresi biasanya juga merupakan salah satu dari reaksi atas kehilangan. Contoh seseorang mengalami depresi yaitu ketika:
-          Kematian orang yang dicintai.
-          Kehilangan rumah atau tempat usaha karena kebakaran.
-          Kehilangan sumber financial.
-          Kehilangan popularitas atau kesuksesan yang telah di raih.
-          Dan lain-lain.
Depresi juga di akibatkan dari kombinasi beberapa faktor. Depresi tidak hanya disebabkan oleh satu kejadian saja. Dalam kehidupan individu ada priode-priode kritis yang berpengaruh pada perkembangan mental individu itu sendiri, kurangnya kasih sayang dan perhatian dari figure yang penting bagi individu pada periode kritis akan mempengruhi depresi pada masa yang akan datang. Pada saat individu merespon kembali situasi serupa yaitu kurang kasih sayang dan perhatian, maka individu mempunyai kecenderungan depresi lebih tinggi dari pada orang yang tidak mengalami situasi demikian. Depresi dapat juga timbul dari beberapa faktor dalam maupun luar. Beberapa faktor tersebut antara lain:
·         Marah dan benci pada pasangan yang telah meninggalkannya
·         Rasa bersalah dan kehilangan pasangan
·         Lingkungan dan keluarga yang tidak sesuai dengan individu

Gejala Depresi
Adapun gejala-gejala depresi berdasarkan DSM IV-TR (APA, 2000) sebagai berikut:
-          Perubahan pada mood,
-          Perubahan dalam motivasi
-          Perubahan pada kognitif
-          Perubahan pada fisik dan psikomotorik

Ciri-ciri Depresi
Menurut John C. Nemiah, MD, (1961) dalam bukunya “Foundation of Psychopatology” menyebutkan ciri-ciri individu mengalami depresi akut antara lain:
-          Perasaan yang sangat mendalam dan berkepanjangan.
-          Merasa terpisah, kehilangan kontak emosi dengan orang lain, dan merasa 
  kesepian.
-          Kehilangan minat terhadap apa yang ada disekelilingnya: dunia terasa 
  sebagai tempat yang mati
-          Surutnya perasaan akan diri sendiri sebagai orang yang berharga, merasa 
  kecil, lemah, tak berdaya secara mental.
-          Lemah dalam usaha dan konsentrasi, sulit berpikir logis.
-          Pikiran-pikiran yang berkembang berifat melankolis dan suram.

Ciri lainnya yaitu:
-        Perubahan kemampuan kognitif,
-        Fungsi vegetatif (tidur, selera makan, aktifitas seksual dan ritme biologis 
lainnya).
Ini menyebabkan masalah dalam hubungan interpersonal, sosial, serta pekerjaan. Dan juga berkaitan dengan gangguan psikologis lainnya seperti serangan panik, penyalahgunaan obat, gangguan seksual, serta gangguan kepribadian.

Aspek Depresi
Depresi terdapat beberapa aspek yang mempengaruhinya. Aspek-aspek tersebut antara lain:
1.      Emosional
·        Perasaan kesal dan marah
Menggambarkan keadaan sedih, bosan dan kesepian yang dialami individu baik yang sementara maupun terus menerus.
·        Perasaan negatif terhadap diri sendiri
Mungkin berhubungan dengan perasaan sedih yang dijelaskan di atas hanya berbeda ini di tujukan pada diri sendiri.
·        Hilangnya rasa puas
Kehilangan kepuasan atas apa yang dilakukan. Ini dapat terjadi pada setiap kegiatan yang dilakukan termasuk hubungan psikososial seperti aktifitas yang menuntut adanya tanggung jawab.
·        Hilangnya keterlibatan emosional
Keterlibatan emosional dalam melakukan suatu pekerjaan atau hubungan dengan orang lain hal ini disertai dengan hilangnya kepuasan diatas. Hal ini di manifestasikan dalam aktifitas tertentu, kurangnya perhatian atau rasa keterlibatan emosi terhadap orang lain.
·        Cenderungan untuk menangis di luar kemauan. Gejala ini banyak di alami 
oleh penderita depresi khususnya wanita.

2.      Kognitif
-       Rendahnya evaluasi diri.
-       Citra tubuh yang terdistorsi   :  Ini sering terjadi pada wanita lansia
 mereka merasa dirinya jelek dan 
 tidak menarik.
-       Harapan yang negatif.
-       Menyalahkan dan mengkritik diri sendiri.
 
3.      Motivasional
Meliputi pengalaman yang di sadari penderita yaitu tentang usaha, dorongan dan keinginan. Ciri utamanya sifat regresif motivasi penderita tampaknya menarik diri dari aktivitas yang menuntut adanya suatu tanggung jawab inisiatif bertindak atau adanya energi yang kuat

Contoh kasus
Dalam contoh kasus depresi, saya akan bercerita pengalaman seseorang. Sebut saja pengalaman Rahma. Rahma putus dari kekasihnya (sebut saja Mike) pada November 2012 lalu. Mike adalah seniornya di kampus, usianya dua tahun lebih tua. Hubungan mereka berakhir setelah terjalin selama dua tahun tiga bulan. Mike yang memutuskan cintanya dari Rahma.
Diputuskan oleh seseorang yang sangat disayanginya, membuat Rahma jadi tidak percaya diri dan terus menyalahkan diri sendiri. Bahkan dukungan teman-teman, sahabat, keluarga pun tidak cukup, dia mengaku akan kembali sedih jika tidak dikelilingi orang lain. Puncak kegalauannya terjadi ketika Rahma sempat beberapa hari tidak masuk kuliah dan hanya menyendiri di kamarnya. Setelah beberapa hari absen kuliah, dia tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit karena gangguan pada lambung yang disebabkan kurangnya cairan dan makanan yang dikonsumsi.
Tidak sampai di situ, bahkan Rahma sempat menanyakan masalah cinta ini ke peramal tarot terkenal dengan harga yang tidak murah. "Yah sampai keperamal soalnya penasaran, dan tahu kalau dia mungkin masih sayang sama kita itu bikin perasaan lebih baik gitu," kata Rahma.

Analisis kasus
Dari contoh kasus di atas terlihat bahwa Rahma mengalami depresi. Depresi yang di alami Rahma disebabkan oleh kehilangan pasangan, adanya rasa bersalah, serta lingkungan tidak sesuai dengan yang diinginkan individu. Gejala yang di alami Rahma terlihat dimulai dari perubahan mood setelah tidak ada orang lain didekatnya, serta tidak adanya motivasi untuk bergaul dengan teman, yang diinginkan hanyalah menyendiri. Berdasarkan teori penyebab depresi Rahma masuk dalam Psikoanalitik (Freud), ia kehilangan objek cintanya yang nyata. Sehingga, ia bereaksi dengan kemarahan yang tidak disadari dan kemudian diarahkan kepada dirinya sendiri mengakibakan dia harus dirawat di rumah sakit karena kurangnya cairan dan makanan yang dikonsumsinya.

Daftar Pustaka
-          Widyarini, Nilam. (2009). Kunci Pengembangan Diri. Jakarta: PT. Elex 
       Media Komputindo.
-          Tomb, David A. (2000). Buku Saku  Psikiatri Edisi 6. Jakarta: Buku 
       Kedokteran EGC.
-          Fitriani, Ayu., dan Nurul Hidayah. (2012). Kepekaan Humor  dengan 
       Depresi Pada Remaja Ditinjau Dari Jenis Kelamin. Humanitas, Vol. 
       IX No.1 Januari 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar